Tantrum Gentle Parenting ala Montessori: Menenangkan dengan Empati
Setiap orang tua pasti pernah menghadapi momen ketika anak menangis, berteriak, atau berguling di lantai karena frustrasi. Dulu saya merasa kewalahan dan mudah ikut emosi. Namun sejak mengenal gentle parenting ala Montessori, saya belajar bahwa tantrum bukanlah perilaku “nakal”, melainkan cara anak mengekspresikan perasaan yang belum bisa mereka pahami atau sampaikan dengan kata-kata.
Pendekatan ini membantu saya melihat tantrum sebagai kesempatan untuk membimbing anak memahami emosinya, bukan untuk menghentikannya dengan ancaman atau kemarahan.

1. Tenangkan Diri Sendiri Sebelum Menenangkan Anak
Langkah pertama dalam tantrum gentle parenting ala Montessori adalah mengatur emosi kita sendiri. Anak akan meniru reaksi kita. Jika kita marah, mereka akan semakin panik. Saat anak mulai tantrum, saya biasanya menarik napas dalam-dalam, berbicara dengan suara lembut, dan memastikan ekspresi wajah saya tetap tenang.
Tips:
Ingat bahwa anak belum bisa mengatur emosinya. Saat kita tetap tenang, kita sedang mengajarkan cara mengelola emosi secara nyata.
2. Akui Perasaan Anak Tanpa Menghakimi
Menurut Montessori, anak perlu merasa “dilihat” dan “didengar.” Jadi ketika anak marah, saya tidak langsung berkata “jangan nangis,” tapi saya validasi perasaannya, misalnya:
“Kamu kesal ya karena mainannya rusak? Mama tahu kamu sayang sekali sama mainan itu.”
Dengan mengakui perasaan anak, mereka merasa aman untuk menenangkan diri. Ini adalah dasar dari gentle parenting ala Montessori, menghargai perasaan anak tanpa menuruti semua keinginannya.
3. Biarkan Anak Menenangkan Diri dengan Cara Aman
Dalam pendekatan Montessori, anak diberi ruang untuk menenangkan diri. Saya biasanya menuntun anak ke tempat yang tenang, seperti sudut baca atau dekat jendela, sambil berkata:
“Kalau kamu sudah siap, Mama di sini ya.”
Ruang yang tenang membantu anak belajar bahwa emosi tidak harus dihindari, tapi bisa dikelola dengan cara yang sehat.
4. Ajak Anak Refleksi Setelah Tenang
Setelah tantrum reda, saya mengajak anak berbicara ringan:
“Tadi kamu marah karena tidak bisa menumpuk baloknya ya? Sekarang sudah tenang, mau Mama bantu?”
Langkah ini penting agar anak belajar memahami sebab dan akibat dari emosinya, serta menemukan solusi bersama. Refleksi ini adalah bagian penting dari tantrum gentle parenting ala Montessori, membangun kesadaran diri dan empati.
5. Siapkan Lingkungan yang Mendukung Kemandirian Anak
Montessori menekankan pentingnya lingkungan yang tenang dan teratur. Saya memastikan rumah memiliki area bermain yang rapi dan mudah dijangkau anak. Saat anak tidak frustrasi karena sulit mengambil atau mengembalikan barang, tantrum pun berkurang secara alami.
Kesimpulan
Menghadapi tantrum bukan tentang mengendalikan anak, tapi tentang membimbing mereka memahami emosi. Dengan gentle parenting ala Montessori, kita belajar menenangkan diri dulu, lalu menemani anak dengan empati. Dari setiap tantrum, anak belajar tentang rasa aman, cinta, dan pengendalian diri. Dan kita sebagai orang tua tunggal belajar menjadi lebih sabar dan penuh kasih setiap harinya.
baca juga 5 Rutinitas Pagi yang Membuat Hidup Single Parent Lebih Teratur



