Dalam pendekatan mengenalkan budaya dan bahasa ala Montessori, anak dipandang sebagai warga dunia (citizen of the world). Mereka belajar melalui pengalaman nyata, suara, warna, makanan, musik, dan bahasa yang mereka dengar setiap hari.
Sebagai ibu dari bayi berdarah campuran Indonesia dan Afrika, saya menyadari bahwa mengenalkan dua budaya sejak dini bukan hanya tentang mengajarkan bahasa, tetapi juga tentang menanamkan rasa bangga akan jati diri mereka.
Montessori mengajarkan kita bahwa anak kecil memiliki absorbent mind, pikiran yang menyerap semua informasi dari lingkungan tanpa disaring. Karena itu, masa bayi adalah waktu terbaik untuk mulai mengenalkan budaya dan bahasa secara alami, lembut, dan penuh cinta.

1. Mulai dari Bahasa yang Dikenal Anak Sehari-hari
Bahasa adalah jembatan pertama antara anak dan dunia. Dalam Montessori, kita tidak perlu memaksakan pembelajaran bahasa. Cukup perkenalkan dengan cara yang alami:
- Bicara pada anak menggunakan dua bahasa bergantian.
- Gunakan nada suara lembut dan ritmis.
- Ceritakan aktivitas harian dalam dua bahasa.
- Bacakan buku sederhana dalam bahasa yang berbeda.
Misalnya, saat memakaikan baju, saya mengatakan:
“Ini bajunya, sayang…”
dan sesekali:
“This is your shirt, baby…”
Anak tidak bingung. Justru, dia menyerap pola bunyi, intonasi, dan ritme bahasa sejak dini.
2. Perkenalkan Musik dari Dua Budaya
Dalam metode mengenalkan budaya dan bahasa ala Montessori, musik adalah alat yang sangat kuat.
Bayi bisa merasakan ritme, melodi, dan emosi dari berbagai budaya dengan natural.
Di rumah, saya memperkenalkan:
- Musik tradisional Afrika
- Musik instrumental Indonesia
- Lagu anak dari berbagai negara
- Suara alam khas dua budaya
Ketika anak mendengar berbagai jenis musik, dia belajar bahwa dunia luas dan penuh kekayaan suara. Musik juga membangun rasa bangga terhadap identitasnya.
3. Aktivitas Sederhana Bertema Budaya
Montessori selalu mengutamakan aktivitas nyata dan pengalaman langsung.
Beberapa kegiatan sederhana yang bisa dilakukan:
Buku Budaya & Foto Keluarga
Buat album kecil berisi foto keluarga dari dua budaya.
Cerita seperti ini membuat anak memahami asal-usulnya.
Mengenal Makanan Tradisional
Tidak perlu makanan rumit.
Cukup perkenalkan rasa dan aroma berbeda seperti:
- manis, asin, rempah, gurih
- buah khas daerah masing-masing
Hal ini membuka indera mereka dan membangun hubungan dengan budaya.
Pakaian Tradisional Mini
Memperlihatkan gambar atau tekstur kain dari budaya keluarga memberi anak pengalaman sensorial yang kaya.
4. Cerita dan Dongeng dari Dua Dunia
Anak sangat mencintai cerita. Dari sini mereka belajar nilai, karakter, dan identitas.
Perkenalkan dongeng Indonesia seperti:
- Si Kancil
- Timun Mas
Serta cerita Afrika seperti:
- Anansi the Spider
- Kisah hewan-hewan savana
Cerita membawa anak masuk ke dunia yang kaya warna, nilai, dan moral.
5. Membersamai Anak dengan Rasa Hormat
Montessori selalu mengajarkan kita untuk memandang anak sebagai individu yang lengkap.
Ketika anak tumbuh dalam dua budaya, tugas kita adalah mendampingi mereka:
- tanpa tekanan,
- tanpa membandingkan,
- dan tanpa memaksa mereka memilih satu identitas.
Biarkan anak mencintai dua dunia sekaligus.
Karena dari ibu dan ayahnya, dia mewarisi dua keindahan.
Kesimpulan
Melalui mengenalkan budaya dan bahasa ala Montessori, anak tumbuh dengan pemahaman bahwa dunia itu luas, indah, dan berwarna.
Mereka tidak hanya belajar bahasa, tetapi belajar mencintai identitas, akar budaya, dan dirinya sendiri.
Setiap hari adalah kesempatan kecil untuk memperkenalkan dunia kepada anak.
Dan setiap momen penuh cinta itu menumbuhkan jiwa yang kuat, lembut, dan bangga dengan siapa dirinya.
baca juga Apakah Musik Anak Harus Sederhana? Montessori dan Irama yang Kaya untuk Bayi



