emosi dan perasaan anak
Blog

Mengajarkan Anak Mengenal Emosi dengan Cara Montessori

Setiap anak lahir dengan berbagai emosi, mulai dari bahagia, marah, takut, sedih, dan kecewa. Namun, tidak semua anak tahu bagaimana mengekspresikan perasaan mereka dengan cara yang tepat. Dalam pendekatan Montessori, mengenalkan emosi pada anak bukan tentang mengontrol perasaan mereka, tetapi membantu mereka memahami dan mengelola emosi itu dengan penuh kasih dan kesadaran.

emosi dan perasaan anak

1. Mulai dengan Mengenal Nama-Nama Emosi

Langkah pertama dalam mengenal emosi anak ala Montessori adalah membantu anak menamai apa yang mereka rasakan. Gunakan bahasa sederhana seperti,

“Kamu sedang marah, ya?” atau “Kamu sedih karena mainannya rusak?”

Dengan begitu, anak belajar bahwa setiap perasaan itu normal dan dapat diterima.

Orang tua bisa membuat emotion cards berisi gambar wajah dengan berbagai ekspresi. Aktivitas ini membantu anak mengenali perbedaan antara marah, kecewa, dan sedih dengan cara yang menyenangkan.

2. Berikan Ruang untuk Mengekspresikan Emosi

Anak butuh ruang aman untuk mengekspresikan perasaannya tanpa takut dimarahi. Montessori mengajarkan bahwa emosi adalah bagian penting dari proses belajar. Saat anak menangis atau kesal, orang tua bisa berkata,

“Kamu boleh marah, tapi jangan menyakiti orang lain.”

Kalimat seperti ini mengajarkan batasan tanpa mengabaikan perasaan anak.

Sediakan sudut tenang di rumah (calm corner), tempat anak bisa menenangkan diri. Tambahkan bantal, boneka lembut, atau buku bergambar tentang emosi agar mereka belajar menenangkan diri dengan lembut.

3. Gunakan Contoh dalam Kehidupan Sehari-Hari

Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Saat orang tua menunjukkan cara menenangkan diri misalnya dengan menarik napas dalam, berdoa, atau duduk sejenak, anak akan menirunya secara alami. Montessori percaya bahwa orang dewasa adalah “model nyata” bagi anak.

Ketika kamu marah, kamu bisa berkata,

“Ibu sedang kesal, jadi Ibu mau duduk dulu supaya hati Ibu tenang.”

Kalimat sederhana ini mengajarkan anak bahwa marah itu boleh, tapi kita bisa memilih cara yang baik untuk menanganinya.

4. Bantu Anak Menemukan Solusi

Setelah anak lebih tenang, bantu mereka memahami apa yang bisa dilakukan. Misalnya,

“Kamu sedih karena mainannya rusak. Mau kita coba perbaiki atau simpan dulu?”

Pertanyaan seperti ini membantu anak berpikir dan mengambil keputusan. Ini adalah bagian penting dari pembentukan emotional intelligence atau kecerdasan emosional.


Kesimpulan

Mengajarkan mengenal emosi anak ala Montessori berarti menumbuhkan kesadaran diri dan empati sejak dini. Dengan bimbingan penuh kasih, anak akan belajar bahwa setiap emosi itu valid, dan mereka mampu menanganinya dengan tenang.

Ketika anak mengenal emosinya, mereka juga belajar mengenal diri sendiri, pondasi penting untuk tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan bahagia.

Baca juga Membangun Kemandirian Anak Sejak Dini dengan Pendekatan Montessori di Rumah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *